Wednesday 12 October 2016

MAKALAH TELAAH KURIKULUM SKI UNTUK SMA/MA (PAI)

BAB I
PENDAHULUAN
     A.    Latar Belakang
Pendidikan Agama Islam (PAI) adalah pelajaran yang memuat pembahasan yang berkaitan dengan agama, dengan harapan setelah memepelajari  agama ini,  tidak hanya paham dengan materi yang di sampaikan akan tetapi mampu juga mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari, sert dapat mendekatkan diri pada yang Maha pencipta, memiliki akhlak yang mulia dalam bergaul, dengan sahabat, orang tua, dan negaranya.
Berdasarkan peraturan menteri agama Republik Indonesia nomor 2 tahun 2008 tentang standar kompetensi lulusan dan standar isi pendidikan agama islam dan Bahasa Arab di Madrasah Aliyah untuk mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam.

            B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana strategi pelaksanaan pembelajaran ?
2.      Bagaimana langkah-langkah pembelajaran ?
3.      Bagaimana analisis silabus dalam mata pelajaran SKI kelas XII tingkat MA ?
4.      Bagaimana problematika dan alternatif penyelesaian masalah pengajaran sejarah kebudayaan islam di tingkat MA ?

            C.    Tujuan Makalah
1.      Untuk mengetahui strategi pelaksanaan pembelajaran.
2.      Untuk mengetahui langkah-langkah pembelajaran.
3.      Untuk mengetahui analisis silabus dalam mata pelajaran SKI kelas XII tingkat MA.
4.      Untuk mengetahui problematika dan alternatif penyelesaian masalah pengajaran sejarah kebudayaan islam di tingkat MA

            D.     Manfaat Makalah
1.      Manfaat Teoritis
                       Dapat memahami materi sejarah kebudayaan islam kelas XII dengan baik.
2.      Manfaat Praktis
a.       Bagi pemakalah
Untuk meningkatkan pengetahuan pemakalah, khususnya islam kelas XII di Madrasah Aliyah.
b.      Bagi pembaca
Sebagai dasar pengetahuan bagi mahasiswa agar nantinya dapat mengaplikasikan dan menelaah materi sejarah kebudayaan islam kelas XII di Madrasah Aliyah.
BAB II
PEMBAHASAN
A.  Diskripsi Kurikulum
Kurikulum Pendidikan Agama Islam merupakan seperangkat atausistem rencanadan pengaturan mengenai isidan bahan pembelajaran yang dipedomani dalam suatu aktivitas belajar mengajar yang dilakukan secara individu maupun kelompok dalam pembelajran Pendidikan Agama Islambaik disekolah maupun diluar sekolah. Kurikulum sebagai program pendidikan ini berfungsi sebagai pedoman dan alat dalam menyelenggarakan yang ber-Orientasi untuk:
1.      Orientasi terhadap tujuan kurikulum
2.      Orientasi terhadap proses belajar
Berdasarkan Orientasi kurikulum diatas, dapat disimpulkan bahwa kurikulum merupakan komponen dari pendidikan yang memegang peranan yang begitu penting, termasuk bagi pelaksanaan dan penyelenggaran mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.
Kurikulum Sejarah Kebudayaan Islam merupakan salah satu bagian dalam mengetahui sejarah dari Pendidikan Agama Islam. Sehubungan dengan ini, kurikulum Sejarah Kebudayaan Islam memiliki peran yang sangat mendukung dalam pencapaian tujuan pendidikan tidak hanya  terhadap Pendidikan Agama Islam tetapi terhadap Pendidkan Nasional. Oleh karena itu, dalam merencanakan dan menyusun kurikulum, guru diharapkan agar cermat dan teliti. Karena, sebuah kurikulum itu memiliki sejumlah komponen yang saling terkait erat satu sama lain. Dan secara teoritis, penyusunan kurikulum harus berdasarkan asas dan orientasi tertentu.
Berdasarkan uraian diatas, maka kami menganggap bahwa penulisan mengenai Telaah Kurikulum Sejarah Kebudayaan Islam ini sangat penting untuk

 dibahas, karena mengingat peranan dan fungsinya yang cukup penting dalam pencapaian tujuan Pendidikan Agama Islam.
Di dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dinyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mencapai tujuan tersebut, salah satu bidang studi yang harus dipelajari oleh peserta didik di madrasah adalah pendidikan agama Islam, yang dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia.
Kebudayaan Islam ialah salah satu mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di Madrasah Aliyah, SKI ini merupakan perkembangan perjalanan hidup manusia muslim dari masa ke masa dalam usaha bersyariah (beribadah dan bermuamalah) dan berakhlak serta dalam mengembangkan sistem kehidu­pannya yang dilandasi oleh akidah.
Mata pelajaran SKI Pendidikan Agama Islam (PAI) di Madrasah Aliyah memiliki karakteristik tersendiri, aspek Sejarah Kebudayaan Islam menekankan pada kemampuan mengambil ibrah dari peristiwa-peristiwa bersejarah (Islam), meneladani tokoh-tokoh Islam berprestasi, dan mengaitkannya dengan fenomena sosial, budaya, politik, ekonomi, iptek dan seni, dan lain-lain untuk mengembangkan kebudayaan dan peradaban Islam.
1.      Identitas Materi
Mata pelajaran SKI kelas XII adalah mata pelajaran yang menjelaskan tentang perkembangan Islam pada masa modern / zaman kebangkitan (1800-sekarang) dan perkembangan Islam di Indonesia dan masih banyak
2.      Standar Kompetensi :
a.       Memahami perkembangan Islam pada masa modern / zaman kebangkitan (1800-sekarang)
b.      Memahami perkembangan Islam di Indonesia
3.      Kompetensi Dasar
a.1. Menjelaskan perkembangan Islam pada masa modern
a.2. Mengidentifikasi peristiwa-peristiwa penting dan tokoh-tokoh yang berprestasi dalam perkembangan Islam pada masa modern
a.3. Mengambil ibrah dari peristiwa perkembangan Islam pada masa modern
b.1. Menjelaskan perkembangan Islam di Indonesia
b.2. Mengidentifikasi peristiwa-peristiwa penting dan tokoh-tokoh yang berprestasi dalam perkembangan Islam di Indonesia
b.3. Mengambil ibrah dari peristiwa perkembangan Islam di Indonesia
1.      Indikator
1.    Menjelaskan proses masuknya Islam ke Indonesia.
2.    Menjelaskan pengaruh Islam terhadap peradaban bangsa Indonesia
3.    Menyebutkan kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia
4.    Mengidentifikasi peninggalan-peninggalan kerajaan Islam
5.    Menyebutkan ulama’-ulama’ awal di Indonesia
6.    Menjelaskan peranan ulama-ulama awal dalam penyebaran Islam di Indonesia
7.    Menyebutkan nama-nama wali songo
8.    Menjelaskan peranan wali songo  dalam pengembangan Islam di Indonesia

2.      Tujuan Dan Orientasi
Mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di Madrasah Aliyah kelas 12 yang bertujuan untuk:
a.       Membangun kesadaran peserta didik tentang pentingnya mempelajari sejarah peradaban islam sampai pada zaman Modern
b.      Membangun kesadaran peserta didik tentang pentingnya waktu dan tempat yang menjadi sejarah dan yang dipelopori boleh para tokoh-tokoh yang berprestasi dalam perkembangan Islam pada masa modern.
c.       Melatih daya kritis peserta didik untuk memahami fakta sejarah secara benar dengan didasarkan pada pendekatan ilmiah.
d.      Membangun kesadaran peserta didik tentang pentingnya mempelajari sejarah peradaban islam sampai masuknya islam di Indonesia.
e.    Mengembangkan  kemampuan peserta didik dalam mengambil ibrah dari peristiwa-peristiwa bersejarah (Islam).
f.    Meneladani tokoh-tokoh berprestasi, dan mengaitkannya dengan fenomena sosial, budaya, politik, ekonomi, iptek dan seni, dan lain-lain untuk mengembangkan kebudayaan dan peradaban Islam di Indonesia.
Setelah mengamati, menanya, mengeksplorasi, menganalisis dan mengkomunikasikan peserta didik diharapkan dapat memahami perkembangan islam yang di bawa oleh Nabi Muhammad SAW. Dan perkembangan Islam yang di bawa oleh para tokoh sampai masuk ke Indonesia.

1.      Materi Pembelajaran

1.1    Menjelaskan perkembangan islam di Indonesia
Di tinjau dari sudut sejarah, agama islam masukke Indonesia melalui berbagai cara. Pada umumnya masuknya islam ke Indonesia melalui para pedagang dari jazirah Arab, Persia, dan India pada abad ke-7 M.
Para pedagang tersebut menyebarkan islam dengan cara berdagang dengan penduduk Indonesia, menikahi penduduk Indonesia, atau meliputi pendidikan yang meliputi pendidikan kesenian, pemerintahan, dan tasawuf kepada masyarakat Indonesia hingga islam bisa diterima dan menjadi mayoritas di Indonesia.
Dalam perkembangan selanjutnya, islam berkembang dengan menyatukan budaya local Indonesia dengan ajaran islam. Namun, perpaduan itu tidak menyebabkan ajaran islam keluar dari jalur dan tetap berpegang teguh pada tuntunan Allah SWT dan Rasullah SAW.
Pada umumnya pembawa agama islam ke Indonesia adalah para pedagang yang berasal dari Arab. Selain berdagang, mereka merasa berkewajiban menyiarkan agama islam kepada orang lain. Agama islam masuk ke Indonesia dengan cara damai, tidak dengan kekerasan atau peperangan, dan tidak dengan paksaan. Adapun daerah Indonesia yang mula-mula di masuki islam adalah Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Jawa Tengah. Kemudian agam islam berkembang ke seluruh pelosok tanah air.
Berdasarkan para ahli, dapat di simpulkan bahwa agama islam masuk di Indonesia pada abad ke -7. Pada abad ke 13 agama islam berkembang dengan pesat ke seluruh Indonesia. Hal itu di tandai dengan adanya penemuan-penemuan batu nisan atau makam-makam yang berciri khas islam, misalnya di Leran (dekat Gresik) terdapat sebuah batu yang berisi tentang meninggalnya seorang perempuan bernama Fatimah binti Maimun pada tahun1082 M dan makam-makam Islam di Tralaya yang berasal dari abad ke-13 M dan di Samudera Pasai terdapat makam-makam raja islam, di antaranya makam Sultan Malik as-Saleh yang meninggal tahun 676 H atau 1292 M.
1.    Perkembangan Islam di Sumatera
Agama Islam masuk ke Sumatera sekitar abad ke-7. Pertumbuhan Islam di Sumatera di tandai dengan berdirinya kerajaan islam pertama di Sumatera dan juga pertama di Indonesia, yaitu kerajaan Samudera Pasai di Aceh yang didirikan oleh raja pertama yaitu Malik as-Saleh. Selanjutnya agama islam berkembang hampir ke seluruh wilayah sumatera, seperti Tapanuli, Riau, Minangkabau, Kerinci, Bangka, Belitung, Indragiri, Lampung serta daerah-daerah lainnya.
2.    Perkembangan Islam di Jawa
Agama islam masuk ke Jawa Tengah pada masa pemerintahan Sima (674). Kerajaan islam pertama adalah kerajaan Demak yang di pimpin oleh raja pertama yaitu Raden Patah. Sedangkan masuknya islam di Jawa Timur terbukti dengan ditemukannya makam Fatimah binti Maimun pada tahun 1082 dan di temukannya batu nisan bertuliskan Arab yang kemudian di sebut “batu leran”. Masuknya islam di Jawa Barat disiarkan oleh Haji Purba pada saat pemerintahan Prabu Mundingsari pada tahun 1190.
Perkembangan agama islam di Jawa juga tidak dapat lepas dari peranan dan andil Walisongo.
3.    Perkembangan Islam di Sulawesi
Perkembanga agama islam di Sulawesi tidak sebaik dan sepesat di Jawa dan Sumatera. Cara pengislaman di Sulawesi juga dilakukan dengan cara damai, tanpa kekerasan, peperangan, atau paksaan. Terkadang timbul pertentanagan antara kerajaan yang telah islam dengan kerajaan yang belum memeluk islam. Pertentangan tersebut bukan karena masalah agama, akan tetapi masalah politik, misalnya kerajaan Gowa dengan kerajaan Sopeng. Adapun yang menyiarka agama islam di Sulawesi adalah Dato’ri Bandang dan Dato’ Sulaeman. Dato’ri Bandang adalah murid Sunan Giri dan beliau mengajarkan agama islam kepada rakyat dan para raja. Daerah pelopor pengembangan agama islam adalah di Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo di Sulawesi Selatan. Kedua kerajaan itu kemudian bergabung menjadi Makasar kemudian bergelar Sultan Alaudin. Sedangkan Raja Tallo menjadi Mangkubumi dengan gelar Sultan Abdullah.
4.    Perkembangan Islam di Kalimantan
Sekitar tahun 1550 di Banjar berdiri kerajaan islam dengan rajanya bergelar Sultan Suryanullah. Sejak itu pula rakyat Banjar banyak yang memeluk agama islam. Begitu pula daerah-daerah di bawah kekuasaan Banjar, satu persatu masuk islam sehingga agama islam dengan cepat dan pesat berkembang di Kalimantan.
Sebelum agama islam masuk ke Dayak, suku Dayak menyembah berhala. Kemudian lama-lama mereka banyak yang memeluk agama islam. Pengislaman di Dayak melalui jalan perdagangan, pernikahan, dan dakwah. Penyiaran islam di Dayak dilakukan oleh pendatang dari Arab, Bugis, dan Melayu. Perkembangan islam selanjutnya dilakukan oleh keturunan-keturunan mereka.
Mengidentifikasi Peristiwa-Peristiwa Penting dan Tokoh-Tokoh yang Berprestasi dalam Perkembangan Islam di Indonesia
Agama islam di Indonesia menjadi agama mayoritas yang hampir dipeluk seluruh masyarakat Indonesia. Umat islam di Indonesia juga menentukan maju mundurnya kehidupan bangsa ini. Umat islam juga dituntut untuk mengisi kemerdekaan dengan bekerja keras agar tercapai kemajuan bangsa Indonesia.
Agar hal tersebut terwujud, maka seluruh umat islam di Indonesia harus bersatu dalam usaha untuk memajukan Indonesia. Berikut ini merupakan berbagai usaha umat islam Indonesia dalam mengisi kemerdekaan Indonesia.
 Tokoh-tokoh yang Berprestasi dalam Perkembangan Islam di Indonesia
Proses penyebaran Islam di wilayah Nusantara tidak dapat di lepaskan dari peran aktif yang dilakukan oleh para ulama. Melalui merekalah islam dapat diterima dengan baik dikalangan masyarakat Nusantara. Para ulama yang pertama kali menyebarkan islam di Nusantara antara lain sebagai berikut:
a.         Hamzah Fansuri
Hamzah Fansuri hidup pada masa perintahan Sultan Iskandar Muda, sekitar tahun 1590. Pengembaraan intelektualnya tidak hanya di Fansur, Aceh, tetapi juga ke India, Persia, Makkah dan Madina. Karena itu ia menguasai berbagai bahasa selain bahasa Melayu. Dalam pengembaraannya itu, ia sempat mempelajari ilmu fiqih, tauhid, tasawuf, sejarah dan sastra Arab. Usai menjalani pengembaraan intelektualnya.
Hamzah Fansuri kembali ke kampong halamannya di Fansur, Aceh. Untuk mengajarkan keilmuan islam yang diperolehnya dari guru-guru yang di datanginya di negeri-negeri yang telah di singgahi. Ia mengajarkan keilmuan islam tersebut di Dayah (pesantren) di Obob Simpangkanan, Singkel.
Hamzah Fansuri bukan hanya sebagai seorang ulama, sufi dan sastrawan terkemuka, ia juga sebagai perintis pengembangan peradaban Islam di Nusantara. Dalam bidang keilmuan tafsir, Hamzah Fansuri telah mempelopori penggunaan metode ta’wil, karyanya Asrarul Arifin.
b.        Syamsudin Al-Sumatrani
Syamsudin Al-Sumatrani merupakan salah seorang ulama terkemuka di Aceh dan Nusantara yang hidup pada abad ke-16. Syamsudin Al-Sumatrani memiliki peran dan posisi penting di istana kerajaan Aceh Darussalam, karena berprofesi sebagai Qadli (HakimAgung), juga kedekatannya dengan Sultan Iskandar Muda sebagai seorang Syeikh Al-Islam. Syeikh Al-Islam merupakan gelar tertinggi untuk ulama, kadi, imam, atau syeikh, penasihat raja, imam kepala, anggota tim perundingan dan juru bicara Kerajaan Aceh Darussalam. Karya-karya Syamsudin Al-Sumtrani adalah : Jaubar Al-Haqaid, Risalah Al-Baiyyin Al-Mulahaza Al-Muwahhidin Wa Al-Mubiddinfi Dzikr Allah, Mir’ah Al-Mukminin, Syarah Ruba’i Hamzah Fansuri, Syarah Syair Ikan Tongkol.
c.         Nuruddin Ar-Raniri
Nuruddin ar-Raniri dilahirkan di Ranir (sekarang Render), sebuah pelabuhan tua di Gujarat. Ayahnya berasal dari keluarga imigran Arab Hadramy, Arab Selatan, yang menetap di Gujarat India. Meskipun ia keturunan Arab, Ar-Raniri dianggap lebih dikenal sebagai seorang ulama Melayu dari pada India atau Arab.
Ar-Raniri di angkat sebagai Syeikh Al-Islam, pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Tsani. Dengan memperoleh dukungan dari Sultan, Ar-Raniri mulai melancarkan berbagai pembaruan pemikiran islam di tanah Melayu, khususnya di Aceh. Diantara karya Ar-Raniri adalah Shiratal Mustaqiem dalam bidang tasawuf, dan Durratul Aqaid bisyarbil-Aqaid dalam bidang aqidah islam.
d.        Abdurrauf Singkel
Abdurrrahman Singkel lahir di Singkel pada tahun 1024 H/1615 M. Ia memperoleh pengetahuan Islam dari ayahnya yang seorang ulama. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikannya di Banda Aceh. Setelah itu melanjutkan ke Haramain pada tahun 1052 H/1642 M. karyanya yang paling terkenal adalah Tafsir Tarjuman Al-Mustafid (Tafsir Penafsir yang Bermanfaat) dan Al-Miratu Thulab fi tashilil Ma’rifatul Ahkamus Syar’iyah lil Malikil Wahhab (cermin Mudd untuk memudahkan pengetahuan tentang Hukum Syari’at yang Di hadiahkan kepada raja) dalam bidang fikih muamalah.
e.         Syeikh Muhammad Yusuf Al-Makassari
Muhammad Yusuf bin Abdullah Abul Mahasin Al-Tajul-Khalwati Al-Makassari, dilahirkan di Moncong Loe, Gowa, Sulawesi Selatan pada tanggal 3 Juli 1626 M/1037 H. Ia berasal dari keluarga yang taat beragama. Ia belajar bahasa Arab, fikih, tauhid, dan tasawuf kepada Sayid Ba Alwi bin Abdullah Al-‘Allaham Al-Thahir, seorang Arab yang menetap di Bontoala. Setelah berusia 15tahun, ia melanjutkan pelajarannya di Cikoang dengan Jalaluddin Al-Aydid, seorang guru pengembara, yang datang dari Aceh ke Kutai, sebelum sampai di Cikoang. Diantara karyanya adalah menyalin kitab Ad-Durrah Al-Fakbira (Mutiara yang Membanggakan), dan Risalah fil-Wujud (Tulisan tentang Wujud).
f.         Syeikh Abdussamad Al-Palimbani
Syeikh Abdussamad Al-Palimbani merupakan salah seorang ulama terkenal yang berasal dari Palembang, Sumatera Selatan. Ayahnya adalah seorang sayid dari San’a, Yaman, yang sering melakukan perjalanan ke India dan Jawa sebelum menetap di Kedah, Semenanjung Malaka. Di Kedah ia di angkat menjadi Qadli (Hakim Agung) di Kesultanan Kedah.
Salah satu karyanya adalah Nasihah Al-Muslimin wa Tazkiyarah Al-Mukmininfi Tadla’ililfibadfi Sabilillah (Nasihat bagi Kaum Muslimin dan Peringatan bagi Orang Beriman tentang Keutamaan Jihad di Jalan Allah).
g.        Syeikh Muhammad Arsyad Al-Banjari
Muhammad Arsyad Al-Banjari lahir pada tahun 1122 H/1710 M di Martapura, Kalimantan Selatan. Ia memperoleh pendidikan dasar keagamaan dari ayahnya dan para guru setempat didesanya sendiri. Dalam usia 7 tahun, Muhammad Arsyad telah mampu membaca al-qur’an secara sempurna. Kemampuan ini menarik perhatian Sultan Tahlilullah sehingga ia di minta tinggal bersama sultan di istana. Karyanya adalah Sabilul Muhtadin (jalan bagi orang yang mencari petunjuk) dalam bidang ilmu lahir dan Kanzul Ma’rifah (Gudang Pengetahuan) dalam bidangilmi batin.
h.        Syeikh Muhammad Nafis Al-Banjari
Muhammad Nafis lahir pada tahun 1148 H/1735 M di Martapura. Ia berasal dari keluarga bangsawan Banjar. Ia merupakan tokoh terpenting kedua setelah Muhammad Arsyad Al-Banjari. Ia meninggal dan di kuburkan di Kelua, sekitar 125 km dari Banjarmasin.
Karyanya tasawufnya yang terkenal adalah Ad-Durrun Nafis fi Bayanil Wabdab wal Afalul Asma wa Sifat wa Zatut Taqdis.
i.          Syeikh Muhammad bin Umar An-Nawawi Al-Bantani
Muhammad bin Umar An-Nawawi Al-Bantani lahir di Tanara, Serang, Banten pada tahun 1230 H/1813 M. Sejak kecil ia dan kedua saudaranya, Tamim dan Abmad, di didik ayahnya dalam bidang agama, ilmu kalam, ilmu nahwu, fikih dan tafsir.
Syeikh Nawaei Al-Bantani termasuk salah seorang ulama Nusantara yang cukup berpengaruh dan sangat dihormati, bukan hanya di kalangan komunitas melayu Haramain secara keseluruhan.
j.          Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau
Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau lahir di bukittinggi, Sumatera Barat pada tahun 1276 H/1855 M. Ayahnya adalah seorang jaksa di Padang, sedangkan ibunya adalah anak dari Tuanku Nan Renceh, seorang ulama terkemuka dari golongan Padri. Ahmad Khatib kecil memperoleh pendidikan awal pada sekolah pemerintahyang didirikan Belanda.
k.        Wali Songo
Dalam sejarah penyebaran islam di Indonesia, khususnya di Jawa terdapat Sembilan orang ulama yang memiliki peran sangat besar. Mereka di kenal dengan sebutan Wali Songo.
1.         Maulana Malik Ibrahim
Maulana Malik Ibrahim nama aslinya adalah Maulana Makhdum Ibrahim As-Samarkandy. Beliau lahir di Samarkand, Asia Tengah, pada paruh pertama pada abad ke-14. Maulana Malik Ibrahim juga di sebut Syeikh Magribi. Ia bersaudara dengan Maulana Ishak, ulama terkenal di Samudera Pasai, sekaligus ayah dari Sunan Giri (Raden Paku). Ibrahim dan Ishak adalah anak dari seorang Persia, bernama Maulana Jumada’ Kubro, yang menetap di Samarkand. Pada tahun 1392, Maulana Malik Ibrahim hijah ke Pulau Jawa tepatnya di desa Sembalo (sekarang Leran), Manyar, sebelah utara kota Gresik. Aktivitas pertama yang di lakukan di desa itu adalah berdagangan dengan cara membuka warung, yang menyediakan kebutuhan pokok dengan harga murah. Selain itu, Maulana Malik Ibrahim juga menyediakan diri untuk mengobati masyarakat secara cuma-cuma.
2.         Sunan Ampel
Sunan Ampel adalah putra tertua dari Maulana Malik Ibrahim. Nama aslinya adalah Raden Rahmat. Beliau di lahirkan pada 1401 di Campa. Nama Ampel sendiri di identikkan pada nama ia lama bermukim, yaitu di daerah Ampel atau Ampel Denta, wilayah yang kini menjadi bagian Surabaya, kota Wonokromo sekarang. Sunan Ampel masuk ke pulau jawa pada tahun 1443. Sunan Ampel membangun dan mengembangkan pondok pesantren, yang kemudian dikenal dengan sebutan Pesantren Ampel Denta. Pada pertengahan abad ke-15, pesantren Ampel Denta menjadi pusat Pendidikan Islam yang sangat berpengaruh di wilayah Nusantara, bahkan hingga ke mancanegara. Dalam menyampaikan materi yang sangat sederhana. Sunan Ampel pula yang mengenalkan istilah Mo Limo (moh main. Moh ngombe, moh maling, moh madat, moh madon).
3.         Sunan Giri
Nama asli Sunan Giri adalah Muhammad Ainul Yaqin. Nama kecil Sunan Giri ialah Raden Paku. Ia lahir di Blambangan (kini Banyuwangi) pada 1442. Ayahnya adalah Muhammad Ishak, saudara kandung Maulana Malik Ibrahom. Maulana Ishak berhasil mengislamkan sang mertua. Oleh karena itulah ia meninggalkan keluarga istrinya dan berkelana hingga Samudra Pasai. Sunan Giri kecil menuntut ilmu di Pesantren Ampel Denta yang didirikan oleh Sunan Ampel, Ia juga berkelana ke Malakadan Pasai. Setelah itu ia membuka pesantren di daerah perbukitan desa Sidomukti, Selatan Gresik. Materi yang di sampaikan Sunan Giri adalah soal akidah dan ibadah dengan pendekatan fikih yang disampaikannya secara lugas. Pesantern ini tidak hanya digunakan sebagai tempat pendidikan, tetapi juga dijadikan sebagai pusat pengembangan masyarakat.
4.         Sunan Bonang
Sunan Bonang adalah putra Sunan Ampel, yang berarti juga cucu Maulana Malik Ibrahim. Beliau lahir pada tahun 1465. Ibunya bernama nyi Ageng Manila, putri seorang Adipati di Tuban. Sunan Bonang belajar agama dari pesantren ayahnya di Ampel Denta. Setelah dewasa, ia berkelana untuk berdakwah di berbagai pelosok pulau Jawa. Pada awalnya ia berdakwah di Kediri dan kemudian menetap di Bonang, Lasem, Jawa Tengah. Di desa itu ia membangun pesantren yang kini dikenal dengan nama Watu Layar.
Sunan Bonang juga banyak menulis karya sastra berupa suluk atau tembang tamsil. Salah satunya Suluk Wijil yang di pengaruhi kitab Al-Shidiq karya Abu Sa’id Al-Khayr. Dan tembang Tombo Ati juga termasuk salah satu karyanya.
5.         Sunan Kalijaga
Sunan Kalijaga adalah seorang wali yang namanya paling banyak disebut masyarakat Jawa. Ia lahir di sekitar tahun 1450. Ayahnya adalah Arya Wilatikta, Adipati Tuban, salah seorang keturunan tokoh pemberontak Majapahit bernama Ronggolawe. Nama kecil Sunan Kalijaga adalah Raden Said. Ia juga memiliki sejumlah nama panggilan seperti Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban, atau Raden Abdurrahman.
Dalam melaksanakan gerakan dakwahnya, Sunan Kalijaga menggunakan sarana kesenian dan kebudayaan, misalnya seni ukir, wayang gamelan, serta seni suara suluk. Beberapa karya Sunan Kalijaga diantaranya adalah menciptakan perayaan sekatenan, grebek maulud, Layang Kalimasada, dan lakon wayang Petruk Jadi Raja.
6.         Sunan Gunung Jati
Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah lahir sekitar tahun 1448. Ibunya adalah Nyai Rara Santang, Putri dari Raja Pajajaran, Raden manah Rarasa. Ayahnya adalah Sultan Syarif Abdullah Maulana Huda, pembesar Mesir keturunan Bani Hasyim dari Palestina. Sejak kecil Syarif Hidayatullah belajar agama islam dan baru mulai mendalami ilmu agama secara intensif sejak berusia 14 tahun dari ulama Mesir. Ia sempat berkelana ke berbagai negara.
Setelah berdirinya Kesultanan Bintoro Demak dan atas restu ulama lain, ia mendirikan Kesultanan Cirebon yang juga di kenal sebagai Kasultanan Pakungwati. Dengan demikian Sunan Gunung Jati adalah satu-satunya Wali Songo yang memimpin pemerintahan.
7.         Sunan Drajat
Sunan Drajat di lahirkan pada 1470. Nama kecil Sunan Drajat adalah Raden Qosim dan bergelar Syaifuddin. Ayahnya adalah Sunan Ampel. Sunan Drajat mendapat tugas pertama kali dari ayahnya untuk berdakwah ke pesisir Gresik, melalui Laut. Tetapi ia kemudian terdampar di Dusun Jelog, daerah pesisir Banjarwati atau Lamongan sekarang. Setahun berikutnya, Sunan Drajat pindah ke selatan dan mendirikan padepokan santri Dalem Duwur, yang kini bernama desa Drajat, Paciran, Lamongan.
Sunan Drajat dikenal sebagai seorang yang bersahaja dan suka menolong, serta memelihara anak-anak yatim piatu dan fakir miskin. Dalam berdakwah, Sunan Drajat tidak menggunakan cara dengan mendekati budaya lokal melainkan secara langsung yaitu tentang tauhid dan akidah.

8.         Sunan Kudus
Nama kecil Sunan Kudus adalah Jaffar Shadiq. Sunan Kudus banyak berguru pada Sunan Kalijaga. Sunan Kudus berdakwah ke berbagai daerah tandus di Jawa Tengah seperti Sragen, Simo, hingga Gunung Kidul. Cara berdakwahnya pun meniru pendekatan Sunan Kalijaga, yaitu sangat toleran pada budaya setempat. Cara penyampaianya bahkan lebih halus. Oleh karena itu, para wali menunjuknya menjadi penyebar islam di Kudus. Hal itu terjadi karena ia merupakan salah seorang wali yang mencoba mengakomodasi budaya lokal dalam berdakwah di kalangan masyarakat Kudus yang mayoritasnya beragama Hindu.
9.         Sunan Muria
Sunan Muria adalah putra Dewisaroh dari hasil perkawinannya dengan Sunan Kalijaga. Dewi Saroh adalah adik kandung Sunan Giri sekaligus anak Syekh Muhammad Ishak. Nama kecil Sunan Muria adalah Raden Prawoto. Nama Muria di ambil dari tempat tinggal terakhirnya di lereng Gunung Muria, yaitu sebelah utara Kota Kudus.
Sunan Muria berdakwah dari Jepara, Tayu, Juana hingga sekitar Kudus dan Pati. Salah satu hasil dakwahnya lewat seni adalah lagu Sinom dan Kinanti.
1.        Strategi Pelaksanaan Pembelajaran
a.       Strategi                 : Contectual Teaching Learning (CTL)
b.       Model                   : Kooperatif
c.       Pendekatan           : Analisis dan pendekatan proses
d.       Metode                 : Apresepsi dan Diskusi
2.        Langkah-Langkah Pembelajaran
A.    Kegiatan Awal
1)      Motivasi
2)      Penjelasan singkat tentang sejarah dakwah Rasulullah SAW pada periode Makkah dan Madinah.
3)      Appersepsi
B.     Kegiatan Inti
1)       Siswa dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil, masing-masing 4 orang
a.        Menyampaikan tugas yang harus dikerjakan oleh masing-masing kelompok Mengkaji beberapa sumber atau literatur tentang ulama’-ulama’ awal di Indonesia, peranan ulama-ulama awal dalam penyebaran Islam di Indonesia, serta mengidentifikasi nama-nama wali songo dan peranan wali songo  dalam pengembangan Islam di Indonesia
b.      Diskusi kelompok  dan diskusi kelas

C.    Kegiatan Akhir
1)      Menyampaikan kesimpulan akhir tentang perkembangan islam di indonesia dan tokoh-tokoh yang paling berpengaruh.
2)      Memberikan salam penutup
3.        Evaluasi Hasil Belajar
Evaluasi hasil belajar dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya:
a.       Pertanyaan lisan dikelas tentang materi perkembangan islam di indonesia.
b.      Ulangan Harian, ujian ini dilaksanakan setelah materi pokok disampaikan.
c.       Tugas Kelompok, dalam tugas ini peserta didik diberi kesempatan untuk melakukan pengamatan tentang judul tugas yang diberikan oleh guru.
d.      Ulangan Tengah Semester.
e.       Ulangan Semester, dalam ulangan ini dilakukan pada akhir semester dengan bentuk soal ujian pilihan ganda semua atau campuran dan ada yang berupa essay semua.

4.        Sumber dan Referensi Pembelajaran
a.       Sari Sejarah Kebudayaan Islam, jilid 1 a, Abu Muhammad: 1982
b.       Sejarah Peradaban Islam: dari masa klasik hingga modern, Siti Maryam dkk.
c.       Tim Perumus, 2006, Menjelajahi Peradaban Islam, untuk Madrasah Aliyah Kelas XII, Yogyakarta, Pustaka Insan Madani
d.      Dan lain-lain.
5.        Waktu Pelaksanaan Pembelajaran
§  Pertemuan pertama (90 menit)

Menjelaskan perkembangan islam di Indonesia
1.      Perkembangan Islam di Sumatera
2.      Perkembangan Islam di Jawa
3.      Perkembangan Islam di Sulawesi
4.      Perkembangan Islam di Kalimantan.
§  Pertemuan kedua (90 menit)
Mengidentifikasi Peristiwa-Peristiwa Penting dan Tokoh-Tokoh yang Berprestasi dalam Perkembangan Islam di Indonesia
1.      Hamzah Fansuri
2.      Syamsudin Al-Sumatrani
3.      Nuruddin Ar-Raniri
4.      Abdurrauf Singkel
5.      Syeikh Muhammad Yusuf Al-Makassari
6.      Syeikh Abdussamad Al-Palimbani
7.      Syeikh Muhammad Arsyad Al-Banjari
8.      Syeikh Muhammad Nafis Al-Banjari
9.      Syeikh Muhammad bin Umar An-Nawawi Al-Bantani
10.  Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau
11.  Wali Songo

A.    Ruang Lingkup
Ruang lingkup mata pelajaran Sejarah Kebudayan Islam di Madrasah Aliyah meliputi:
1.      Proses masuknya Islam ke Indonesia
2.      Pengaruh Islam terhadap peradaban bangsa Indonesia
3.      Kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia
4.      Peninggalan-peninggalan kerajaan Islam di Indonesia
5.      Ulama’-ulama’ awal di Indonesia
6.      Peranan ulama-ulama awal dalam penyebaran Islam di Indonesia
7.      Nama-nama wali songo
8.      Peranan wali songo  dalam pengembangan Islam di Indonesia
A.    Analisis Silabus
Dari format silabus yang dijadikan sebagai studi kasus dalam makalah ini, secara garis besar didapatkan temuan-temuan sebagai berikut (lihat tabel):
Tabel  Kesesuaian Materi SKI Madrasah Aliyah Kelas XII dengan Prinsip-Prinsip Pengembangan
No
Prinsip Pengembangan
Hasil Analisis
Terpenuhi
Cukup
Kurang
1
Ilmiah
2
Relevan
3
Sistematis
4
Konsisten
5
Memadai
6
Aktual dan kontekstual
7
Fleksibel
8
Menyeluruh
9
Efektif
10
Efisien

Dari tabel diatas menunjukkan bahwa, kesesuaian silabus yang dirumuskan dengan prinsip-prinsip pengembangan yang seharusnya menjadi rujukan dalam merancang bangun dapat digambarkan sebagai berikut:
Pertama, dari aspek prinsip ilmiah menunjukkan materi dan kegiatan yang termuat dalam komponen silabus dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan. Pengembangan indilkator, materi pembelajarn, kegiatan pembelajaran, penilaian, alokasi waktu dan sumber belajar telah mengacu pada pencapaian kompetensi dasar dan sesuai dengan karakteristik mata pelajaran dan sumber daya yang ada dan berpedoman pada standar isi yang ditetapkan oleh PEMENAG No 2 tahun 2008.
Kedua, dari aspek relevansi materi indikator dan teknik penilaian pembelajaran cukup menunjukkan adanya keterkaitan terhadap kompetensi dasar, namun akan lebih baik jika siswa juga mampu memahami perkembangan Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad dan sampai masuk ke indonesia yang di bawa oleh para Tokoh Walisongo.
Ketiga, dari aspek sistematis silabus terlihat adanya hubungan fungsional antar komponen-komponen silabus dalam mencapai kompetensi.
Keempat, dari aspek konsisten di dalam komponen-komponen silabus tersebut telah ada hubungan yang ajek antara kompetensi dasar, indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar dan sistem penilaian.
Kelima, dari aspek memadai cakupan indikator, materi pokok/pembelajaran, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian cukup untuk menunjang pencapaian kompetensi dasar.
Keenam, dari aspek aktual dan kontekstual cakupan indikator dan sistem penilaian kurang memerhatikan perkembangan Iptek
Ketujuh, dari aspek fleksibel komponen silabus indikator dan penilaian kurang dapat mengakomodasi peserta didik, pendidik, serta dinamika perubahan yang terjadi di sekolah dan masyarakat. Padahal ini sangat penting untuk pembelajaran perkembangan Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad dan masuk sampai keIndonesia yang di bawa oleh para Wali Songo.
Kedelapan, dari aspek menyeluruh silabus belum menunjukkan keseluruhan ranah kompetensi (kognitif, afektif, dan psikomotori) seperti dalam taksonomi Bloom. Pada gambaran silabus tersebut tujuan kognitif lebih banyak ditonjolkan, sedangkan tujuan afektif (yang terdiri dari penerimaan, respons, menghargai, mengorganisasi, dan pola hidup) dan tujuan psikomotorik (yang terdiri dari meniru, menggunakan, ketepatan, merangkaikan dan naturalisasi) belum terpenuhi.
Kesembilan, dari aspek efektif komponen-komponen silabus cukup menggambarkan keterlaksanaan silabus tersebut dalam proses pembelajaran. Namun untuk komponen penilaian tes yang dikembangkan belum menunjukkan efektifitas guru dalam mengumpulkan informasi tentang tingkat penguasaan materi pelajaran siswa yang diajarnya atau efektivitas pembelajaran yang telah dilakukan. Artinya skala yang digunakan oleh guru dalam menilai hasil belajarnya hanya berdasarkan tujuan kognitif saja, sementara itu penilaian tentang tujuan afektif dan psikomotorik belum dimunculkan.
Demikian uraian analisis dari silabus mata pelajaran SKI yang ditampilkan. dan sebagai perbandingan dibawah ini akan ditampilkan silabus yang telah disusun kembali.

A.    Problematika Pengajaran Sejarah Kebudayaan Islam di Tingkat MA
Sejarah Kebudayaan Islam merupakan pelajaran penting sebagai upaya untuk membentuk watak dan kepribadian ummat. Dengan mempelajari sejarah, generasi muda akan mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dari perjalanan suatu tokoh atau generasi terdahulu. Dari proses itu dapat diambil banyak pelajaran, sisi-sisi mana yang perlu dikembangkan dan sisi-sisi mana yang tidak perlu dikembangkan. Keteladan dari tokoh-tokoh / pelaku sejarah inilah yang ingin ditransformasikan kepada generasi muda, disamping nilai informasi sejarah penting lainnya.
Walaupun demikian penting materi sejarah bagi pengembangan kepribadian suatu bangsa, Namun dalam realitasnya sering kurang disadari, sehingga mata pelajaran sejarah kurang diminati. Mata pelajaran sejarah justru hanya dipandang sebagai mata pelajaran pelengkap, baik oleh siswa maupun oleh guru. Ini terbukti mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di Madrasah Aliyah waktu ajarnya hanya 2 jam dalam seminggu, padahal materi pelajaran SKI cukup banyak.
Tidak hanya masalah jam pelajaran, dari hasil pengamatan, kami juga menjumpai masalah-masalah lain yang berkaitan dengan metodologi pengajaran Sejarah Kebudayaan Islam pada sekolah tersebut, yaitu :
§   Baru menekankan pada aspek sejarah politik para tokoh penguasa pada zamannya. Sementara aspek sosial, aspek ekonomi, budaya dan pendidikan kurang mendapatkan porsi yang memadai.
-          Untuk solusinya adalah dengan adanya pembagian mata pelajaran ada SKI I dan SKI II
§   Apresiasi siswa terhadap sejarah kebudayaan islam masih rendah. Bahkan beberapa guru sejarah Islam juga menunjukkan apresiasi yang rendah terhadap mata pelajaran ini. Hal ini ditunjukkan dengan rendahnya perhatian mereka terhadap pengajaran sejarah.
-          Solusi : dengan metode yang menarik, misal dengan metode sosiodrama tidak akan membuat siswa bosan. Siswa akan memperhatikan pelajaran bahkan merespon pelajaran tersebut. Seorang guru SKI juga harus lebih aktif mencari metode yang tepat dan banyak, semakin banyak seorang guru itu mempunyai metode maka semakin ingin tahu siswa yang diajar.
§   Generasi muda pada umumnya lebih bangga terhadap hasil kebudyaan Barat, sementara terhadap kebudayaan Islam sendiri, mereka merasa malu untuk mengakuinya, apalagi menirunya. 
-          Solusi : kita sebagai generasi muda bahkan sebagai calon guru harus bangga dan melestarikan terhadap kebudayaan islam sendiri, banyak kebudayaan islam yang tidak dimiliki oleh barat.
§   Penjelasan guru kurang memperhatikan aspek-aspek lain, misalnya faktor sosiologis, faktor antropologis, ekonomis, geografis dan sebagainya.
-          Solusi : seharusnya dalam menjelaskan satu materi dapat diterangkan dengan beberapa sudut pandang yang berbeda, sehingga pemahaman siswa menjadi lebih komprehensif.
§   Pada RPP penulisan sumber pembelajaran tidak diperjelas buku yang diambil referensi.
-          Solusi : seharusnya pada RPP sumber pembelajaran dicantumkan identitas bukunya.
A.  Alternatif Penyelesaian Masalah Pengajaran Sejarah Kebudayaan Islam
Adapun alternatif dalam penyelesaian masalah dalam pengajaran SKI yang harus dipenuhi ;
§  Keimanan, yang mendorong peserta didik untuk menahan diri dan mampu untuk memahami dan meyakini tentang adanya Allah SWT. Sebagai sumber kehidupan. 
§  Pengamalan, menempatkan peserta didik untuk dapat merasakan hasil-hasil pengamalan ajaran dalam kehidupan sehari-hari sebagaimana yang dilakukan Sahabat, khalifah, dan para ulama. 
§  Pembiasaan, melaksanakan pembelajaran dengan membiasakan sikap dan perilaku yang baik yang sesuai dengan ajaran Islam yang dicontohkan oleh Sahabat, khalifah dan para ulama.
§  Rasional, usaha meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran SKI dengan pendekatan yang memfungsikan rasio peserta didik, sehingga isi dan nilai-nilai yang ditanamkan mudah dipahami dengan penalaran. 
§  Emosional, upaya menggugah perasaan (emosi) peserta didik dalam menghayati berbagai peristiwa dalam sejarah Islam sehingga lebih terkesan dalam jiwa peserta didik. 
§  Fungsional, menyajikan materi SKI yang memberikan manfaat nyata bagi peserta didik dalam kehidupan sehari-hari dalam arti luas. 
Keteladanan, yaitu pendidikan yang guru serta komponen madrasah lainnya sebagai teladan; sebagai cerminan dari individu yang meneladani sahabat, khalifah dan para ulama'.
BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Pelaksanaan pembelajaran sejarah kebudayaan islam kelas XII semester 2 di MA/SMA, dalam pembelajaran khususnya materi memahami perkembangan Islam di indonesia ini dilakukan seperti halnya yang sudah tertulis dalam RPP.
Pencapaian indikator dengan metode yang variasi ini memudahkan siswa dalam menangkap pembelajaran yang diberikan oleh guru sehingga keberhasilan dalam  pencapaian indikator bisa tercapai.
Antara prota, promes, silabus, dan RPP terdapat permasalahan ketidak sesuaian pada alokasi waktu yang ditentukan. Pada RPP penulisan sumber pembelajaran tidak diperjelas buku yang diambil. Pada kegiatan awal di RPP setelah guru memberikan salam, tidak memeriksa kehadiran siswanya.

KRITIK DAN SARAN
1.      Saran untuk guru.
Guru hendaknya memperhatikan lebih detail mengenai pembuatan silabus, RPP, prota dan promes, sehingga tidak ada kekeliruan dalam penulisan dan bisa dibaca dengan baik untuk para penelaah selanjutnya.
2.      Saran untuk pengkaji selanjutnya.
3.      Untuk pengkaji selanjutnya supaya dalam pengkajian lebih detail dalam menelaah sehingga kekurangan yang ada di dalam kajian bisa teratasi mendapatkan solusi yang tepat.






DAFTAR PUSTAKA

Sabri, Ahmad. 2005. Strategi Belajar Mengajar dan Micro Teaching. Ciputat: Quantum Teaching
Subchi, Imam. 2007. Sejarah Kebudayaan Islam. Jakarta : Yudhistira.

0 komentar:

Post a Comment